CERPEN: BUKAN ANAK KORUPTOR
Karya "Siti Dara Dina Rohmah"
Bukan suara ayam atau pun lantunan adzan, aku terbangun di pagi buta dengan suara yang ditimbulkan oleh kericuhan warga desa. Akhir-akhir ini para warga sering melakukan protes kepada bapak. Aku beranjak memeriksa keadaan di depan rumah, tapi niatku terhenti saat bapak keluar dari kamarnya.
“Bapak, itu kenapa?” Tanya aku penasaran dengan situasi di depan rumah, karena semakin lama terdengar semakin ricuh.
“Tidak tahu, kamu tetap di sini! Bapak akan cek keluar.” Tegas bapak memperingati diriku. Bapak keluar dari rumah, bukannya mereda suara ricuh itu malah semakin panas. Aku penasaran, dengan mengintip aku lihat suasana di luar, waw ternyata sangat kacau.
“Bapak-bapak ibu-ibu tenang, ada apa ini?” Tegas bapak berusaha mengendalikan keadaan. Namun malah gunjingan yang bapak dapatkan.
“Wah Bapak ingin kami tenang? Maka jalankan tugas bapak dengan baik selaku kepala desa!” Tegas salah satu di antara mereka, menyuarakan jawaban.
“Apa maksud bapak?” Tanya bapak mencari penjelasan dengan gestur tubuh yang terlihat gelisah.
“Ah jangan pura-pura nggak tau pak?” Teriak segerombolan ibu-ibu mengompori keadaan.
“Pak jangan tutup mata, lihat jalan di desa kita sudah rusak parah dan itu mempersulit akses kami. Kami merasa ada yang janggal dari awal bapak menjabat, tidak ada perubahan untuk desa kita.” Ucap salah satu pemuda desa dengan Panjang bermaksud menjelaskan keresahan warga.
“Mana janji manis bapak, tidak ada hasilnya sama sekali.” Teriak teman pemuda tadi dengan lantang.
“Bapak, ibu tenang,itu semua membutuhkan protes.” Tegas bapak menenangkan keadaan warga yang Kembali ricuh.
“Ah proses mulu dari dulu.” Teriak salah satu ibu-ibu protes akan ucapan yang bapak ungkapkan, perkataan yang dilontarkan ibu-ibu itu dibenarkan oleh warga lainnya.
“Pak sebenarnya kami tidak ingin menuduh hal yang belum tentu benar, namun dilihat dari kinerja bapak yang tidak ada hasilnya sama sekali membuat kami berasumsi buruk tentang bapak.” Ujar bapak yang sudah sepuh mengutarakan pendapat bermaksud menjelaskan keresahan para warga.
“Iya, apa jangan-jangan memang uang yang seharusnya untuk perbaikan desa malah bapak korupsi.” Tegas salah satu bapak-bapak menuduh bapak dengan nada yang tidak bersahabat.
“Kalau iya parah sih. kalau di lihat lagi rumah bapak makin bagus dan besar ya?, apa ini hasil uang yang di korupsi?” Ucap pemuda desa dengan nada mengejek sembari melihat ke arah rumah.
“Ayo bapak-bapak ibu-ibu kita lapor saja ke polisi atau langsung ke KPK saja.” Tegas pemuda itu dengan mengajak pergi warga. Bapak menegang mendengar perkataan pemuda tadi, wajah nya pucat penuh keringat.
***
Pagi ini aku terbangun dengan perasaan tidak semangat. Aku teringat insiden kemarin yang membuat bapak melarang aku pergi bermain, lalu bapak juga terlihat gelisah kemarin.
Bapak adalah seorang kepala desa yang baru menjabat selama 2 tahun di desa legok kaso, dan aku adalah putranya Dirga. Usiaku 11 tahun dengan baru saja menginjak kelas 6 SD. Semenjak bapak menjadi kepala desa, hidup kami terasa berubah menjadi lebih tercukupi.
“Dirga, sudah sampai.” Lamunan aku buyar saar bapak bersuara. Ternyata kami sudah berada di depan sekolah.
“Dirga, jangan terlalu dekat dulu dengan teman-teman kamu.” Ujar bapak memperingati. Aku tertegun, masih mencerna maksud dari ucapan bapak. Aku teringat Kembali dengan insiden kemarin, apa itu alasan bapak menyuruhku untuk menjauh dari teman-teman?
“Kenapa? apa karena insiden kemarin?” Tanya aku penasaran dan ingin memastikan maksud dari pernyataan bapak.
“Ya, jadi jauhi dulu teman-teman mu dirga dan tolong berhati-hati. Sekarang cepat kamu masuk ke sekolah.” Pesan bapak sambil melirik ke arahku, lalu setelah itu aku berpamitan dengannya . Dengan cepat aku turun dari mobil, sepanjang perjalanan menuju kelas aku hanya menundukan kepala.
“Sut, nanti anak koruptor dengar.” Ucap anak laki-laki dari gerombolan mereka, yang sedang berkumpul di koridor kelas.
“Hai anak koruptor.” Sapa salah satu dari mereka dan mencegat diriku. Dengan gaya sok nya dia memandang diriku dari atas kepala sampai bawah dia lakukan itu beberapa kali.
“Hei Dirga bilang ke bapak kamu, jangan rumah doang yang di perbagus, tuh jalan desa perbaiki udah kayak tanah ditaburi batu.” Ucap anak laki-laki itu dengan suara yang sengaja di keraskan. Aku berusaha untuk tidak terpancing, walau sudah banyak orang yang memperhatikan.
“Anak koruptor, anak koruptor.” Ejek mereka dengan berteriak, terdengar suara tawa dari anak-anak lain yang menonton tidak jauh dari tempat aku berdiri. Aku berusaha menenangkan diriku supaya tidak terpancing emosi, aku remas tali tas agar dapat mengendalikan emosi.
“Pantesan bapaknya gendut, ternyata isi perutnya uang warga.” Ejek mereka dengan tawa yang semakin keras. Aku tak tahan, aku melayangkan pukulan ke salah satu diantara mereka, merasa tidak terima mereka membalas dengan mengeroyok. aku lampiaskan
kemarahan yang dari tadi aku berusaha tahan, namun mereka sudah keterlaluan dengan membawa nama bapak ke dalam ejekan mereka dan menghinanya, aku tidak mempermasalahkan mereka yang menghina aku namun jangan membawa orang tua.
“Bapak aku bukan koruptor dan aku bukan anak koruptor.” Teriak aku dengan lantang sambil masih menghajar mereka. Guru-guru berdatangan memisahkan kami yang masih saling menghajar.
Bapak datang ke sekolah dipanggil oleh salah satu guru untuk mengurus insiden yang aku perbuat tadi pagi. Dengan ragu aku melihat raut wajah bapak, aura menyeramkan terpancar darinya, aku harus mempersiapkan diri. Tak berselang lama kami pamit pulang lebih awal. Sepanjang perjalanan kami hanya diam, tidak ada yang memulai percakapan.
“Dirga, bisa jelaskan alasan dari tindakan kamu tadi pagi?” Tanya bapak mencari penjelasan tentang perkelahian tadi pagi. Aku diam perasaan takut dan kesal menjadi satu yang membuat aku ragu untuk menjawab pertanyaan bapak.
“Dirga jawab.” Bentak bapak meminta jawaban. Aku terkejut dengan bentakan bapak, aku yang tadinya memang masih ada sedikit rasa kesal terpancing dengan bentakan bapak.
“Karna Dirga membela diri dan membela bapak.” Teriak diriku di depan bapak. Entah keberanian dari mana sampai aku berani berteriak di hadapannya.
“Apa maksud kamu membela bapak?” Tanya bapak terkejut dan mencari penjelasan dari ucapan aku barusan.
“Mereka merendahkan bapak, menuduh bahwa bapak korupsi, lalu menyuruh aku untuk mengatakan kepada bapak bahwa jangan hanya rumah saja yang di perbagus tapi jalanan desa juga.” Jawab aku dengan cepat, aku ungkapkan semua yang tadi mereka katakan kepada aku tentang bapak.
“Maaf Dirga karena bapak, kamu sampai harus terlibat perkelahian.” Ujar bapak meminta maaf namun perkataannya belum selesai.
“Dirga dengan berat hati bapak akan memberitahu rahasia terbesar bapak. Sebenarnya tuduhan warga atau teman-temanmu tidak sepenuhnya salah, bapak memang menggelapkan uang yang seharusnya untuk desa malah bapak gunakan untuk mencukupi kehidupan kita. Maaf dirga bapak telah mengecewakan kamu.”
Mendengar penjelasan bapak membuat aku terkejut. Aku masih mencerna penjelasan bapak, rasa sakit menjalar ke dalam hati. Aku rasakan kekecewaan yang mendalam yang di sebabkan oleh bapak. Di sepanjang perjalan sampai tiba di rumah, aku hanya diam tidak banyak bersuara.
*****
Entah kenapa bangun pagi yang seharusnya menyegarkan akhir-akhir ini menjadi awal malapetaka. Ya seperti kali ini contoh nya pukul 03:00, bapak sudah membangunkan aku dengan menggedor pintu.
“Dirga, Dirga bangun.” Teriak bapak dengan nada yang terdengar terburu-buru. Dengan cepat aku membukakan pintu.
“Dirga cepat kemasi barangmu lalu masukkan ke bagasi mobil.” Pesan bapak sambil memasukkan pakain dirga ke dalam tas.
“Kenapa?” Tanya aku penasaran. Memangnya ada apa sampai harus terburu-buru, namun tak urung aku ikut membantu.
“Jangan banyak tanya.” Setelah selesai kami memasukan barang-barang ke dalam bagasi. Aku duduk terdiam masih mencerna situasi, setelah mengunci pintu dengan cepat bapak mulai mengendarai mobil.
“Pak sebenarnya ada apa?” Tanya aku kepada bapak, terlihat wajah bapak sangat gelisah dia mengendarai mobil dengan kecepatan yang lumayan cepat.
“Bapak ketahuan dan terbukti korupsi dan sekarang mereka menuju ke rumah kita.” Setelah mendengar pengakuan dari bapak aku tak memberikan respon apapun. Tak berselang lama kami mulai menjauh meninggalkan rumah.
“Berhenti!” Terdengar umpatan dari mulut bapak. Aku terkejut ternyata kami di hadang oleh sekumpulan warga dan aparat kepolisian. Kami pun turun dengan tangan yang kami angkat.
Oh tuhan apalagi ini?
